JAKARTA - Pernahkah kamu mendengar nama-nama seperti Titiek Puspa, Bing Slamet, dan Gesang Martohartono? Mereka adalah musisi legendaris Indonesia yang lahir dari sebuah studio rekaman dan pabrik piringan hitam legendaris Indonesia, Lokananta.Menyimpan segudang sejarah dan karya kebudayaan yang berlimpah, Lokananta yang sempat mengalami masa sulit kini bangkit dan mengenalkan warisan musik Industri percetakan di wilayah Nusantara berkembang sejalan dengan penerbitan surat kabar dan buku yang diperkirakan berkembang sejak abad ke-17, ketika mesin cetak pertama kali di datangkan ke pulau Jawa pada tahun 1659. Karena tidak ada operatornya, mesin itu menganggur sampai berpuluh-puluh tahun. Kalau di daftar sedikit sekali penerbit-penerbit yang muncul pada era 1950-an dan 1960an masih bertahan hingga kini seperti tiga serangkai, Erlangga,Rosdakarya,Bumi Aksara, Dian Rakyat, dan tentunya penerbit tertua Balai Pustaka yang kini telah menjadi BUMN. Percetakan Kemas Muhammad Azhari merupakan resultan dari trajektori perjalanan ibadah haji dan misi dakwah Kristen yang melintasi Selat Malaka sebagai jalur pelayaran di mana Singapura menjadi Di dalam kitabnya, Gutenberg membuat percobaan terhadap percetakan berwarna untuk beberapa bagian awal halaman, tersedia hanya dalam beberapa salinan. Karya baru-barunya, The Mainz Psalter yang dikeluarkan pada tahun 1453, sepertinya di disain oleh Gutenberg tetapi diterbitkan di bawah terbitan penggantinya, Johann Fust dan Peter Schöffer Dy2ZJ.

sejarah percetakan di indonesia